Teman.. Pacaran itu bukan hanya masalah pribadi antar dua anak manusia, namun juga aspek-aspek seperti, aspek sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama lho !
Meski sering di pandang sebagai masalah kecil yang dilakukan oleh remaja, namun ternyata berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Di bidang ekonomi, pacaran mampu menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional, hal ini terbukti dari meningkatnya permintaan BBM (Bahan Bakar Motor/Mobil) pada hari-hari tertentu, Sabtu malam-Minggu dan hari libur. Selain tingginya permintaan BBM, pada hari-hari itu dapat dipastikan cafe, restoran, warung tenda dan lesehan, toko, mall, gedung bioskop, taman kota, selalu dipadati remaja yang sedang berpacaran. Hal itu otomatis menambah devisa bagi negara, terutama dari sektor pajak (pajak restoran, retribusi, PPN, PPH dan sebagainya).
Selain di bidang ekonomi, perilaku pacaran juga berdampak pada kehidupan sosial, politik, serta pertahanan dan keamanan. Hal itu mengingat tingginya tingkat resistensi antar pihak. Setidaknya perilaku pacaran melahirkan tiga kekuatan politik, mereka yang mengharamkan/melarang, mereka yang memperbolehkan dengan batasan tertentu, dan mereka yang menganggap pacaran dengan berbagai bentuk merupakan ekspresi hak asasi manusia. Jika kekuatan itu tidak dikelola dengan baik, sangat mungkin melahirkan konflik sosial yang bisa berdampak luas dan berkepanjangan.
Dari segi budaya, pacaran juga melahirkan berbagai kecenderungan perilaku remaja, seperti pergaulan bebas, melahirkan generasi pesolek (suka dandan), dan generasi penyair. Faktor budaya ini juga berimbas pada kehidupan ekonomi nasional. pergaulan bebas menyebabkan meningkatnya produksi alat kontrasepsi dan alat-alat pencegah kehamilan lain. Generasi pesolek melahirkan sikap konsumerisme, terutama untuk produk garment (pakaian), alat-alat kecantikan (kosmetik) juga alat-alat pendukung yang lain seperti sandal, sepatu, minyak rambut, parfum dan sebagainya.
Pacaran juga berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Sebab banyak seminar, diskusi, talk show yang dilakukan di banyak tempat dengan topik pacaran. Hal ini juga menyebabkan meningkatnya produksi buku dengan tema/topik pacaran/cinta, baik buku fiksi (novel, teenlit), non fiksi (buku gaul), juga buku-buku puisi, SMS cinta, dan sebagainya. Bisa dibayangkan, bila tidak ada pacaran bagaimana nasib penerbit yang menggantungkan diri pada produksi buku-buku remaja. Dan bila itu terjadi, berapa banyak muncul pengangguran di tanah air. Padahal diketahui, besarnya pengangguran akan mengakibatkan tingginya kerawanan sosial. karena itulah pacaran juga terkait dengan persoalan pertahanan dan keamanan.
(jangan pada heran gitu dong... )